Restorasi lanskappada masa Corona: bergerakmaju bersama penanaman pohon

Paul Burgers / durasi baca 5 menit

Kegiatan restorasi kami di Sumatera Barat juga menghadapi tantangan akibat pembatasan karena Corona. Namun, staf lapangan kami telah menemukan solusi yang tepat untuk melewati periode ini, menghindari penundaan dalam kegiatan restorasi.

Kegiatan restorasi kami di Sumatera Barat juga menghadapi tantangan akibat pembatasan karena Corona. Namun, staf lapangan kami telah menemukan solusi yang tepat untuk melewati periode ini, menghindari penundaan dalam kegiatan restorasi.

Di lokasi restorasi baru kami, tempat kami akan menanam pohon kayu manis, pohon kopi, dan pohon buah-dan-kayu lainnya secara tumpang sari di lahan seluas 75 ha, sebuah pembibitan besar telah didirikan. Benih kopi telah ditanam di sana, tetapi kami kekurangan benih dan bibit kayu manis akibat tingginya permintaan. Karena bepergian sangat dibatasi, kami kesulitan mencari benih dan bibit kayu manis. Karena itulah kami akan membahas bagaimana kami bisa mengatasi situasi ini tanpa menyebabkan potensi keterlambatan dalam pekerjaan restorasi.

Berdasarkan pengalaman bekerja sama selama lebih dari 4 tahun dengan petani skala kecil dalam menanam pohon kayu manis, kami menyadari bahwa petani skala kecil tidak pernah membeli benih ataupun bibit. Benih pohon kayu manis menyebar dengan mudah, sehingga terdapat banyak bibit di dalam dan sekitar tanah tempat pohon kayu manis tumbuh. Bibit selalu diminta secara cuma-cuma dari para petani di perkebunan pohon kayu manis, atau bahkan ditemukan di sepanjang jalan karena dijatuhkan oleh burung atau oleh terbawa angin. Dalam rangka menghindari persaingan di kemudian hari, petani selalu mencabut bibit yang tumbuh secara alami di perkebunan pohon kayu manis.

"Tanggapannya luar biasa. Dalam sepekan, pembibitan kami telah menerima lebih dari 60% permintaan kami, atau hampir 20.000 bibit. "

Di sinilah pemahaman terhadap kebiasaan setempat terbukti sebagai komponen penting. Setelah mendiskusikan kemungkinan memperoleh bibit gratis dari tanah dan cara mencabutnya, staf kami memutuskan untuk menyebarkan kabar bahwa program kami tengah mencari bibit kayu manis berjumlah besar. Kami meminta para petani yang mengunjungi unit pengolah kopi dari mitra kami di lapangan, dan menelepon kepala-kepala desa sekitar, tempat banyak petani skala kecil mengelola perkebunan kayu manis seluas 2-3 ha milik mereka sendiri.

Karena salah satu staf kami lulusan jurusan epidemiologi tanaman Universitas Andalas, berbagai kriteria pemilihan bibit yang hendak kami kumpulkan dicantumkan dalam permintaan bibit. Selain itu, kami memberikan bayaran sebesar Rp.500 per bibit yang memenuhi kriteria ketika petani mengantarnya ke pembibitan desa atau unit pengolah kopi.

Tanggapannya luar biasa. Dalam sepekan, pembibitan kami telah menerima lebih dari 60% kebutuhan kami, atau hampir 20.000 bibit. Bibit yang tersisa (sekitar 18.000) akan kami terima dalam beberapa hari/minggu mendatang dari sejumlah petani perkebunan pohon kayu manis skala kecil di wilayah tersebut. Staf kami sudah dihubungi oleh para petani yang telah mengumpulkan bibit yang bagus untuk kami, dan akan segera menyerahkannya.

Aktivitas ini terbukti cukup inklusif. Petani yang tidak terlibat dalam program ini memperolah manfaat dari kehadiran kami dengan penjualan bibit mereka, sementara para wanita di desa tempat kami bekerja juga menerima upah harian untuk memindahkan semua bibit ke dalam polybag. Penanaman bibit, seperti penanaman padi, secara tradisional merupakan pekerjaan perempuan. Menanam bibit muda dengan tangan perempuan dipandang akan mendatangkan untung, sehingga bibit bisa tumbuh dengan subur.

Kelihatannya mungkin sepele, tetapi pada suatu masa ketika Corona telah menurunkan peluang pendapatan hingga hampir nol, program ini telah menjadi kontribusi yang sangat positif bagi sejumlah besar petani, pria dan wanita. Beberapa orang mengatakan bahwa kesempatan ini telah membuka peluang bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan tambahan selama beberapa minggu.